| Mujizat omega-3 terhadap kesehatan (III) The function of omega-3 for our health (III) posted April 18. 08 Penemuan terbaru senyawa turunan dari DHA dan EPA Kata-kata kunci: homeostasis, pro dan anti-inflamasi, lipid mediator, lipoxins, resolvins, (neuro) protectin, 5-LO, LXA4, LXB4, neutrophil, PMN (polymorphonuclear neutrophil), sel mononuclear (monocyte),
turunan senyawa DHA dan EPA, secara garis besar, serta dari tulisan ini pembaca dapat mengerti mekanismenya dalam menjaga keseombangan kesehatan kita dari gejala inflamasi. Tidak kurang pentingnya pembaca dapat mengenal lebih dekat istilah-istilah ilmiah, yang untuk ke depannya, dapat merupakan basis pengetahuan di bidang tersebut. Dalam hubungan ini semua, penulis tidak lupa mengingatkan, betapa rumitnya proses serta mekanisme terjadinya inflamasi dan pemecahan inflamasi (anti-inflamasi). Ini adalah bagian terakhir dari rangkaian artikel mengenai omega-3. Tulisan bagian terakhir ini akan mengupas penemuan senyawa baru turunan dari DHA, EPA. Senyawa-senyawa baru tersebut menunjukkan sifat yang sebelumnya sama sekali tidak diketahui, berperan aktif dalam memecah inflamasi (radang. Note: Penulisan tidak begitu jelas dengan istilah “radang”, apakah dalam bahasa Indonesia telah digunakan sebagai istilah ilmiah atau sinonim dengan kata “inflammation” dalam hubungan apa yang akan ditulis di sini.) yang mekanismenya telah diketahui hingga pada tingkatan sel dan jaringan sel. Di samping itu tulisan ini juga menyinggung tentang inflamasi yang selama ini dikenal dengan istilah “Prostaglandines Cascade”, di mana mekanisme reaksi biokimia menyebabkan terjadinya inflamasi pada jaringan-jaringan sel di dalam tubuh kita. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Prof. Charles N. Serhan, yang telah merekomendasikan menggunakan Review Article nya (1) sebagai pegangan utama tulisan ini.
Ada tiga grup senyawa yang telah diketahui dengan baik peranannya hingga pada tingkat sel sebagai anti-inflamasi (anti-inflammation) dan pemecah proses inflamasi. Dari hasil penelitian dapat dibuktikan bahwa dengan kwantitas yang sangat kecil pun (nanogram, picogram) senyawa-senyawa ini ampuh melawan dan mencegah gejala inflamasi, serta memutus proses inflamasi. Tiga grup senyawa ini adalah, Lipoxins, Resolvins, dan Protectins. Lipoxins turunan dari senyawa asam lemak tidak jenuh arachidonic acid (AA). AA merupakan PUFA (poly-unsaturated fatty acid). Resolvins turunan baik dari EPA, maupun dari DHA. Kita telah mengenal baik, EPA dan DHA (lihat I) adalah asam lemak, berdasarkan dari sekian banyak hasil penelitian, berperan penting sekali bagi kesehatan kita, dan berupa EFA (essential fatty acid) bagi manusia, karena keterbatasan tubuh kita mengsintesanya, dan harus diperolehkan dari luar tubuh. Protectins merupakan turunan dari senyawa DHA, hasil proses oxidation di dalam tubuh kita, misalnya docosanoids.
Senyawa grup lipoxins mulai dikenal sejak awal tahun 80an abad lalu, seperti yang ditulis di atas, merupakan turunan dari AA. Sebelum itu pengertian para pakar tentang AA semata-mata senyawa asam lemak tidak jenuh (PUFA) penyebab serentetan peristiwa inflamasi di dalam tubuh kita, dengan istilah “Prostaglandines Cascade”, di mana setelah proses reaksi biokimia AA di dalam tubuh kita (juga terjadi pada hewan) dikonversi menjadi senyawa yang pro- inflamasi, misalnya leukotriene (LTB4, LTB5), prostaglandins (PGE2, PGD2). Penemuan terakhir menunjukkan, AA dalam proses reaksi biokimia di dalam tubuh, pada tingkat jaringan sel dan sel, pertama melalui senyawa turunannya seperti yang disebut sebelumnya (leukotriene, prostaglandines) berfungsi menimbulkan inflamasi, namun di tengah proses terjadinya inflamasi, AA pun dikonversi melalui serentetan reaksi biokimia menjadi senyawa lipoxins, yang berfungsi mencegah terjadinya inflamasi berlarut-larut. Dual fungsi AA kini dikenal, pro dan juga anti-inflamasi, dengan melalui senyawa turunannya (di bawah akan banyak digunakan istilah mediator, atau chemical mediator, atau juga disebut lipid mediator (penggunan kata lipid, dikarenakan turunan dari asam lemak tidak jenuh), yang dimaksud adalah senyawa-senyawa turunan berfungsi baik pro maupun anti-inflamasi).
Inflamasi, dalam bahasa Indonesia sehari-hari, yaitu radang. Kita sering mendengar misalnya, radang usus, radang otak, radang paru-paru, peradangan, bengkak memar dan seterusnya. Kata radang ini kita hubungkan dengan gejala penyakit yang bersangkutan. Penggunaan istilah ini telah dikenal secara tradisi sejak Yunani dan Tiongkok kuno, ribuan tahun yang lalu. Dari penemuan-penemuan terakhir, para pakar berpendapat bahwa, sebetulnya inflamasi (atau radang) bukanlah berupa penyakit itu sendiri. Inflamasi diperlukan oleh tubuh kita, karena proses reaksi biokimia inflamasi di dalam tubuh ditujukan melawan invasi bakteri dari luar, zat-zat yang negatif bagi sel- sel, jaringan sel, serta organ-organ, ataupun bila terjadi luka. Dalam hubungan ini, jenis sel seperti leukocyte, neutrophil, berperan memusnahkan invasor. Dapat kita gambarkan fungsinya seperti pasukan keamanan dari sesuatu bahaya yang menyerang keseimbangan tubuh. Terutama neutrophil, berperan sebagai patrol keamanan tubuh kita, begitu menemukan sesuatu yang asing ditubuh, serta merta akan memusnahkannya. Dalam proses inflamasi, chemical mediator (juga disebut lipd mediator karena berasal dari asam lemak AA, DHA dan EPA) berupa leukotriene dan prostaglandin, turunan dari AA, memegang peranan penting. Pada waktu yang bersamaan, proses pemusnahan awal terhadap invasor, neutrophil mengeluarkan chemical mediator yang mana memberikan sinyal berikutnya merekrut lebih banyak lagi sel neutrophil dan leukocyte untuk turut beraksi memusnahkan invasor. Proses pemusnahan ini disebut phagocytosis (kemampuan memakan, menelan). Dalam proses ini neutrophil mengeluarkan agent, enzyme (reactive oxygen species, hydrolytic enzymes, dan lain-lain), yang secara umum juga tidak baik bagi tubuh dan dapat merusak sel, jaringan sel. Proses pengerahan pertahanan ini dapat berlangsung beberapa menit hingga beberapa jam lamanya. Pertahanan tubuh telah menyiapkan mekanisme sedemikian rupa, pada tahap tertentu, aksi selanjutnya dari neutrophil harus dicegah. Pencegahan tersebut terjadi di mana biosintesa chemical mediator yang pro-inflamasi, leukotrine, distop, dan beralih ke biosintesa chemical mediator anti-inflamasi jenis lipoxins. Semua biosintesa ini terjadi di dalam sel neutrophil. Peralihan atau switch biosintesa dari mediator pro-inflamasi ke anti-inflamasi Pada tingkat cellular biology (biologi sel) mekanisme peralihan ini telah terprogram dengan sempurna. Neutrophil setelah keluar dari postcapillary venule (penghujung pembulu darah yang halus. Lihat gambar) berinteraksi dengan jenis sel-sel lain yang berdekatan di sekitarnya (leukocytes, blood- borne cell types, platelets, endothelia, mucosal epithelia dan interstitial cells, fibroblasts). Jenis sel-sel lain ini berkontribusi memberikan sinyal terjadinya pada tahap tertentu peralihan ini. Munculnya prostaglandins dari sel neutrophil juga mengisyaratkan secara terprogram, nasib biosintesa mediator ini (semacam feedback) sendiri akan berakhir, dengan meregulasi (down regulation) enzyme 15-LO yang terdapat di dalam sel neutrophil, kemudian switch biosintesa ke mediator yang lain, yang anti-inflamasi. Namun hal lain yang sangat menentukan peralihan ini adalah kemampuan enzyme 5-LO (5-Lipoxigenase. Penemuan enzyme ini dan satu lagi, COX, cyclooxygenase, yang membawa Samuelsson B. dan Bergstrom S. mendapatkan penghargaan Nobel tahun 1982) mengkonversi secara reaksi enzymatic dari AA menjadi leukotriene (LTB4), lalu beralih pada tahap berikutnya ke lipoxins. Dalam hubungan ini exzyme 5-LO juga substrate dependent (tergantung dari kondisi mikro setempat), di mana enzyme tersebut, satu dari sekian step proses biosintesa, dapat menggunakan dan mengkonversi DHA, EPA menjadi grup senyawa resolvins. Pada tingkat sel, munculnya neutrophil dan terbentuknya nanah (pustule) mengisyaratkan peralihan dari mediator pro- ke anti-inflamasi, dan pembatasan atau pencegahan pengrekrutan neutrophil berikutnya dari pembulu darah ke lokasi kejadian. Mediator anti-inflamasi, lipoxins, resolvins, dan protectins memobilisasi sel macrophage (monocyte) yang dapat memakan sel neutrophil, serta membersihkan lokasi dari sisa-sisa pertarungan. |

| Articles |
| Mujizat 0mega-3 terhadap kesehatan (II) The function of omega-3 for our health Abraham Hoffer dan bukunya: Orthomolecular nutrition Mujizat 0mega-3 terhadap kesehatan (I) The function of omega-3 for our health The Brain (I) The Owner's Manual for the Brain Pandangan tentang kesehatan - Orthomolecular nutrition Orhtomolecular nutrition, an alternative for you Mari membahas kembali tentang stress Let's talk about stress again Situs membahas hal-hal stress Discussing about stress |
| English Summary |
This is the second part of article about omega-3. It is an amazing group of molecules, and in this article we introduce some researchers who are doing research works, which are based on epidemiology, literature studies as meta- analysis, clinical trials, cohort-studies, reviews, experimental in biochemistry or intervention studies, and so on. As we know, there are so many publications in this area, we try to understand who is doing what, and which research group has brought more valuable and breakthrough results. The majority of published papers in omega-3 mostly are not experimental but more in small scale clinical trial, with or without intervention. As Stahl et al in their recently published article (The role of omega-3 fatty acids in mood disorders. Curr Opin Investig Drugs. 2008) stated, that many current studies on omega-3 are overall not so conclusive, as we can read some passages from his Conclusion and Future Perspective, ... epidemiological studies generally, but not in all instances, supported a benefit of consumption of long chain omega-3 PUFA in mood disorders. Some might ... intervention studies have been extremely heterogeneous often with small sample sizes. ... subjects have varied in the severity of depression, the use of omega-3 PUFA as monotherapy or adjunct therapy, the type of long chain omega-3 PUFA (fish oil containing EPA+DHA, DHA from algal oil or purified ethyl EPA), the dose of long chain omega-3 PUFA and the duration of the intervention. ... there has not been an adequate dose response study. However from the whole context, they do not negate the important role of omega- 3 PUFA. We still need some more time to get better research proving with fully acceptable data, which could satisfy all of us, especially for people who consume it every day as supplement. Clinical research is very time intensive and time consuming, which involving large group of people in the trial. However that kind of detailed data, which is tractable, reliable, would be used as indispensable and valuable reference for forever. More interesting thing is the recent finding of novel omega-3 pathways after undergoing oxidation reaction within the cell. The end products of these pathways, which we will discuss next time, and also the last part of this writing, are a series of biological active novel compounds. |
| Mujizat omega-3 terhadap kesehatan (III) The function of omega-3 for our health (III) Membrane dapat menyimpan senyawa intermediate 15-HETE dalam bentuk lipid dengan kandungan inositol (lihat links). 15-HETE dilepas dan ditangkap oleh sel leukocyte yang berdekatan, dan seterusnya dikonversi menjadi lipoxins. Terjadinya biosintesa lipoxins di dalam sel leukocyte, sebaliknya mempengaruhi berkurangnya produksi leukotriene. Serhan menyebut kejadian demikian sebagai regulasi dimana lipoxins berperan sebagai mediator memberi sinyal “stop and go”. Fungsi lipoxins, ialah memblok secara effektif infiltrasi sel neutrophil (juga disebut PMN atau polyphormonuclear neutrophil) yang menuju ke arah terjadinya inflamasi. Dengan demikian inflamasi dapat tepat waktu dicegah, dan tidak berkelanjutan yang mana dapat membahayakan proses kerja normal sel dan jaringan sel. Proses kembali ke normal di mana pembuluh darah dijaga permeabilitasnya terhadap keluarnya neutrophil dari pembuluh darah dan proses ini disebut homeostasis. Selanjutnya lipoxins terlibat dalam proses merekrut sel mononuclear (monocyte) berasal dari pembuluh darah, dan monocyte ini kemudian berubah fungsi sebagai macrophage dan memakan sel PMN. Proses demikian mengakhiri inflamasi, atau disebut memecah inflamasi (resolution). Berhubungan dengan proses, fungsi kerja lipoxins, para peneliti menemukan peranan Aspirin dalam proses meredam inflamasi di tubuh kita. Tentang ini akan dibahas selanjutnya di bawah. (Reprinted, with permission, from the Annual Review of Immunology, Volume 25 ©2007 by Annual Reviews www.annualreviews.org)
Penelitian dari grup Serhan dan penelitian dari grup lain-lainnya menunjukkan hal menarik dengan peranan obat Aspirin (acetyl salicylic acid) dalam proses meredam atau memecah inflamasi dan obat tersebut pun telah menjadi pegangan dalam percobaan dan penemuan mediator baru bersifat resolusi dan anti-inflamasi. Peranan Aspirin searah dengan proses biologi resolusi inflamasi, di mana dengan pengaruh Aspirin, terbentuk secara reaksi enzymatic senyawa mediator yang mirip dengan lipoxins, yaitu epimernya, 15-epi-LXA4 dan 15-epi- LXB4. Epimer mengandung konfigurasi kimia R, 15R-, sedangkan lipoxins konfigurasi 15S-. Namun epimer ini pun memiliki potensi meredam inflamasi yang sama kuat seperti lipoxins yang alamiah. Seiringan dengan ini, diketahui pula bahwa Aspirin dapat berpengaruh atas produksi resolvins dan protectins. Sintesa seri R juga memerlukan enzyme COX, hal tersebut digunakan dalam percobaan merekonstruksi proses meredam inflamasi. 15-epi-LXA4 15-epi-LXB4 Menarik pula, epimer ini memiliki effek resolusi lebih lama dibandingkan dengan lipoxins alamiah, disebabkan oleh konfigurasinya yang berbeda yang tidak begitu mudah didegradasi oleh enzyme. Dari hasil penelitian demikian terbuka jalan bagi kemungkinan pengembangan obat yang dapat memperpanjang waktu effek resolusi dan anti-inflamasi, berhubung lipoxins juga memiliki sifat antifibrotic. Masih ada hal yang menarik lagi dengan penelitian Aspirin, yang ternyata di bidang biologi receptor memiliki keunikan dan berpotensi untuk pengembangan obat baru, namun kami tidak akan membahas bidang tersebut lebih jauh di sini.
Penemuan senyawa resolvins banyak menggunakan percobaan berdasarkan pengalaman dari penelitian dengan lipoxins, serta pengembangan metoda baru. Model Aspirin juga sering digunakan. Respon terhadap inflamasi yang akut, memicu biosintesa mediator yang sifatnya resolusi (memecah/meredam) dan anti-inflamasi. Salah satu mediator ini dan juga penemuan pertama ialah grup lipoxins, dengan menggunakan AA sebagai substrat. Penemuan resolvins dan protectins menunjukkan, kecuali AA, substrat lain, DHA dan EPA terlibat, dan memainkan peranan yang sangat aktif dan penting sebagai peredam inflamasi (resolving inflammation) dan anti- inflamasi. Penemuan mediator pertama dari grup resolvins adalah turunan EPA, 5,12,18R-trihydroxy- 6,8,10,14,16-eicosapentaenoic acid (resolvin E1, RvE1), Berdasarkan hasil percobaan yang banyak dilakukan grup Dr. Serhan resolvin E1 dapat secara effektif mengurangi gejala inflamasi, dan dapat memblokir migrasi neutrophil (transendothelial migration). Pengurangan inflamasi atau pengurang sel neutrophil terjadi 3 hingga 4 jam setelah kehadiran resolvin E1. Resolvin E1 Biosintesa resolvin E1, dengan model percobaan Aspirin, mula-mula EPA pada lokasi sel endothelial dari pembuluh darah dikonversi menjadi 18R-HEPE. Senyawa intermediate ini dilepas dan dengan cepat dikonversi pada lokasi sel PMN menjadi intermediate berikutnya. Percobaan ini membuktikan juga keterlibatan enzyme 5-LO dan COX dalam proses biosintesa resolvin E1. Di samping itu grup Dr. Serhan juga mengindentifikasi mediator baru berikutnya juga berupa turunan dari EPA, dan diberi nama resolvin E2, atau RvE2. Dengan percobaan Aspirin, EPA juga terkonversi dalam proses biosintesa menjadi epimer intermediate, 15R-HEPE, dan intermediate ini merupakan precursor dari 15-epi-lipoxin A5, yang mana sama menunjukkan potensi anti- inflamasi seperti seri 4, LXA4 and LXB4. Yang menarik lagi, species ikan memiliki mediator proresolusi utama berupa 15-epi-lipoxin A5. Terlihat bahwa alam mengkonservasi senyawa ini dengan baik.
Percobaan dengan DHA dan model Aspirin, DHA terkonversi dan menghasilkan turunan intermediate epimer, 17R-DHA. Namun dari percobaan yang lain dari grup Serhan, ternyata tanpa penggunaan Aspirin pun, DHA di dalam tubuh kita, endogenouos DHA dapat terkonversi melalui reaksi enzymatic menjadi intermediate 17S-DHA. Baik 17R-DHA maupun 17S-DHA, kedua-duanya dapat selanjutnya dikonversi menjadi 2 senyawa intermediate berikutnya (2 senyawa ini bukan masing-masing dari R atau S, melainkan baik R atau S sendiri dapat dikonversi menjadi 2 senyawa intermediate yang berbeda), dan pada akhirnya (proses biosintesa melibatkan Lipoxygenase, atau LO, Epoxidation, dan Hydrolases. Khusus epimer 17R sebelumnya membutuhkan COX, atau Cyclooxygenase.) terbentuk 4 turunan mediator aktif dengan nama resolvin D1, D2, D3, dan D4 (RvD1, RvD2, RvD3, RvD4). Ini adalah resolvins seri D berasal dari DHA. Protectin / PD1 Resolvin D1 Dr. Nicolas G. Bazan dan grup penelitinya, sejak 1980an mempelajari peranan PUFA, terurama di otak. Bersama dengan grup Serhan, mereka membuktikan protectins terdapat juga di otak, sehingga diberi nama neuroprotectins. Salah satu penemuan mereka, protectins dapat meregulasi ion channel pada sel microglial. Protectins berupa turunan dari DHA. 10R,17S-dihydroxydocosa- 4Z,7Z, 11E,13E,15Z, 19Z-hexaenoic acid, atau dipersingkat sebutannya menjadi 10,17- docosatriene NPD1, senyawa intermediate yang sangat potent, dan berfungsi pada sistem nerve dan immun. Seperti juga Resolvins, PD1/NPD1 mempercepat terjadinya resolusi inflamasi. Sedangkan peranan dilihat dari gejala penyakit, dapat mempercepat penyembuhan pada mata, dan kerusakan pada cornea, membatasi kerusakan sel yang mengandung pigmen retinal, serta dapat mevitalisasi sel otak dan membatasi gejala stroke. Protectins, seperti juga halnya dengan resolvins atau lipoxins, mediator yang potent meregulasi leukocyte, mengurangi infiltrasi sel PMN. Dalam satu percobaan, resolvins ditambahkan PD1, maka effeknya akan meningkat berlipat ganda, membuktikan bahwa kedua jenis senyawa ini menggunakan jalur reaksi terpisah mencapai effek peredaman inflamasi.
Dr. Serhan adalah pakar utama dibidang resolusi inflamasi. Berdasarkan hasil penelitiannya selama 20 puluhan tahun akhirnya dapat menyimpulkan peranan penting omega-3, yaitu DHA dan EPA dari tingkat molekuler, di mana dapat dibuktikan 2 senyawa ini terlibat langsung dalam proses peredaman inflamasi di tubuh kita. Pembuktian yang penting terhadap arachidonic acid, yang sebelumnya dikenal sekedar digunakan oleh sel di dalam tubuh kita berupa senyawa penyebab inflamasi (pro-inflamasi), yaitu melalui turunannya yang telah dikenal degan sebutan prostaglandins. Kenyataannya arachidonic acid juga dapat berperan positif, yaitu setelah dikonversi menjadi lipoxins, mediator pro- resolusi inflamasi. Alam sedemikian sempurnanya, tidak hanya menimbulkan inflamasi di dalam tubuh, sebagai kebutuhan melawan invasor atau bila terjadinya luka, tetapi juga telah menyediakan pathway, solusi meredam inflamasi itu sendiri, untuk membatasi effek negatif terhadap tubuh dari inflamasi berkelanjutan. Pada waktu, di mana setelah para peneliti mempelajari fungsi obat Aspirin dan sejenisnya yang memiliki kemampuan meredam inflamasi, serta setelah penemuan prostaglandins cascade tahun 1980an, maka mekanisme anti- inflamasi dan resolusi inflamasi dapat dikenal lebih baik.Pembuktian- pembuktian demikian banyak membawa pengaruh positif terhadap pengembangan obat yang lebih aman. Hal yang cukup banyak disoroti di dalam tulisan Dr. Serhan, antara lain yalah penggunaan obat sejenis COX-2 inhibitors. Penggunaan jenis obat ini mencerminkan tingkat pengetahuan biomedical hingga saat ini, di mana masih diam di tahap pengetahuan arachidonic acid sekedar berperan negatif bagi tubuh, yaitu penyebab inflamasi, dan pemanfaatan penemuan akhir-akhir ini belum sepenuhnya dikembangkan. COX-2, seperti yang telah kita kenal, bermulti-fungsi dan dapat juga mengkonversi arachidonic acid menjadi lipoxins, ini berdasar kebutuhan physiologi yang tepat waktu dengan resolusi inflamasi. Memblokir kerja enzyme COX-2 berarti juga memblokir proses normal terjadinya resolusi inflamasi. Dengan demikian malahan membuat inflamasi tidak teredam. Dengan penemuan ketiga jenis senyawa mediator pro-resolusi, lipoxins, resolvins, dan protectin, terbukalah jalan pengobatan yang jauh lebih baik dan aman, misalnya membuat senyawa yang mirip atau mimetic, namun jauh lebih stabil di dalam tubuh, sehingga dapat memperpanjang effek anti-inflamasi. |
| English Summary |






The function of omega-3 for our health This is the last part of article series, "The function of omega-3 for our health". For almost last 100 years researchers saw something positive to human health in fatty acids, especially species from poly-unsaturated fatty acids (PUFAs) derived from marine organism, e.g. fish. Story begins with the knowledge that our ancestor starting the civilization as hunter and gatherer, but long before that many evidences tell us, human depends heavily on certain kinds of fatty acid, namely DHA and EPA of omega-3 family that make-up our today's intelligence. In clear text, DHA and EPA are part of our body "component" that without them we will not have a healthy life. At one side they function as structural component within lipid double layer encapsulate cytoplasm and letting the whole cell with certain fluidity property. At the other side they actively play a very important role in body physiology. Balance in our daily nutrition is very important to health. Many evidences indicate that omega-3 fatty acids, DHA and EPA are essential to us. Human body is a very complexed biochemical process, and DHA and EPA play many important roles in maintaining our good health. Deficiency in these fatty acids seem to cause malfunction in certain organ. So far scientists could conclude that diseases such as cardiovascular disorder, psychological diseases, Alzheimer disease, cancer and also inflammation related to DHA and EPA. The latest in case of long lasting inflammatory event could lead to those other diseases. Dr. Charles N Serhan described elegantly in his recent review article, which is used as main source for writing this article, how these two PUFAs are indisputably needed to put the inflammation to end in our body. Arachidonic acid is not merely responsible for the inflammation reaction, which is well known in prostaglandins cascade, but also at the same time it has the property to resolve it, through a series of biochemical and cellular event, in which AA is converted in interdependent with the inflammation reaction, to an anti-inflammation mediator, lipoxins. The fascinating works from Dr. Serhan's group provide us to understand the inflammation reaction and also the way to resolve it in our body on cellular and molecular level. DHA and EPA both play a central role in this event. These two molecules thoroughly play a positive role in resolving the inflammation, comparing with arachidonic acid, with dual function as mediator for inflammation and as anti-inflammation. Aspirin is known with its good anti-inflammation property, and it is interesting that this small molecule has also similar biochemical mechanism to stop the inflammation. Aspirin is also used in many of their experiments to study the action of pro-resolving mediator. Inflammation itself is not a disease, as Dr. Serhan stated. It is necessary in the physiology to prevent unexpected foreign agents, chemical radicals, microorganism from invading our body cells or organs. This is just one part of the self defence mechanism. Once the inflammation event develop to certain step, the preprogrammed inflammation resolving mechanism takes place to bring back the normal physiological condition or homeostasis. It is the function of lipoxins, and also, as Dr. Serhan discovered, DHA and EPA are undergone biochemical and enzymatic conversion to act as mediator to stop further inflammation. The timing of enzymatic and biochemical resolving reaction happens very exact at the point, when and where it should take action. This new classes of DHA, EPA derived mediators are resolvins and protectins. EPA is converted to resolvins E series, and DHA is conveted to resolvins D series and protectins. Since it is also found in nervous system and it has an important role in brain tissue, so protectins is also named as neuroprotectins. The common function lipoxins, resolvins and protectins have is during the inflammation process, they prevent the further infiltration of neutrophil cells from releasing capillary blood vessel. Neutrophil cell type can release chemically active agents to deactivate thing not good for body, but these agents can also be harmful to body. All these discoveries will bring benefit to biomedical research progress, in further understanding the complexed human biochemical reactions in relation to disease study, and it will also have a positive impact in developing new generation of therapeutic active substances curing diseases in association with inflammation event. |

|
|