Mujizat omega-3 terhadap kesehatan (III)
The function of omega-3 for our health (III)
posted April 18, 2008
Tan, T J

Penemuan terbaru senyawa turunan dari DHA dan EPA

(Special thank to Professor Charles N. Serhan, who recommended and provided his
Review Article, which is used as the main source for this article.)

    Tujuan tulisan terakhir ini memberi gambaran tentang fungsi
    turunan senyawa DHA dan EPA, secara garis besar, serta dari
    tulisan ini pembaca dapat mengerti mekanismenya dalam
    menjaga keseimbangan kesehatan kita dari gejala inflamasi.
    Sebelumnya, pengertian asam lemak tidak jenuh, atau lipid,
    terbatas peranannya di cell membrane atau lipid membrane. Dengan
    penemuan prostaglandins yang berasal dari turunan arachidonic
    acid, maka era baru peranan asam lemak tidak jenuh mulai tiba,
    yang ternyata begitu penting bagi kesehatan kita. Tidak kurang
    pentingnya pembaca dapat mengenal lebih dekat istilah-istilah
    ilmiah di dalam tulisan ini, yang untuk ke depannya, dapat
    merupakan basis pengetahuan di bidang tersebut. Dalam
    hubungan ini semua, penulis tidak lupa mengingatkan, betapa
    rumitnya proses serta mekanisme terjadinya inflamasi dan
    pemecahan/peredaman inflamasi (anti-inflamasi).

Kata-kata kunci:  

homeostasis, pro dan anti-inflamasi, lipid mediator, lipoxins, resolvins, (neuro)
protectins, 5-LO, LXA4, LXB4, neutrophil, PMN (polymorphonuclear neutrophil),
sel mononuclear (monocyte),

Ini adalah bagian terakhir dari rangkaian artikel mengenai omega-3. Tulisan
bagian terakhir ini akan mengupas penemuan senyawa baru turunan dari DHA,
EPA. Senyawa-senyawa baru tersebut menunjukkan sifat yang sebelumnya
sama sekali tidak diketahui, berperan aktif dalam memecah inflamasi (radang.
Note: Penulis tidak begitu jelas dengan istilah “radang”, apakah dalam bahasa
Indonesia telah digunakan sebagai istilah ilmiah atau sinonim dengan kata
inflammation” dalam hubungan apa yang akan ditulis di sini.) yang
mekanismenya telah diketahui hingga pada tingkatan sel dan jaringan sel. Di
samping itu tulisan ini juga menyinggung tentang inflamasi yang selama ini
dikenal dengan istilah “
Prostaglandins Cascade”, di mana mekanisme reaksi
biokimia menyebabkan terjadinya inflamasi pada jaringan-jaringan sel di dalam
tubuh kita. Sebelumnya saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Prof.
Charles N. Serhan, yang telah merekomendasikan menggunakan
Review Article
nya (1) sebagai pegangan utama tulisan ini.

    Lipoxins, Resolvins, dan Protectins

Ada tiga grup senyawa yang telah diketahui dengan baik peranannya hingga
pada tingkat sel sebagai anti-inflamasi (anti-inflammation) dan pemecah
(peredam) proses inflamasi. Dari hasil penelitian dapat dibuktikan bahwa
dengan kwantitas yang sangat kecil pun (nanogram, picogram) senyawa-
senyawa ini ampuh melawan dan mencegah gejala inflamasi, serta memutus
proses inflamasi. Tiga grup senyawa ini adalah,
Lipoxins, Resolvins, dan
Protectins. Lipoxins turunan dari senyawa asam lemak tidak jenuh arachidonic
acid
(AA). AA merupakan PUFA (poly-unsaturated fatty acid). Resolvins turunan
baik dari EPA, maupun dari DHA. Kita telah mengenal baik, EPA dan DHA (lihat
omega 3 bagian I) adalah asam lemak, berdasarkan dari sekian banyak hasil
penelitian, berperan penting sekali bagi kesehatan kita, dan berupa EFA
(
essential fatty acid) bagi manusia, karena keterbatasan tubuh kita
mengsintesanya, dan harus diperolehkan dari luar tubuh. Protectins merupakan
turunan dari senyawa DHA, hasil proses oxidation di dalam tubuh kita, misalnya
docosanoids.

    Lipoxins

Senyawa grup lipoxins mulai dikenal sejak awal tahun 80an abad lalu, seperti
yang ditulis di atas, merupakan turunan dari AA. Sebelum itu pengertian para
pakar tentang AA semata-mata senyawa asam lemak tidak jenuh (PUFA)
penyebab serentetan peristiwa inflamasi di dalam tubuh kita, dengan istilah
Prostaglandins Cascade”, di mana setelah proses reaksi biokimia AA di dalam
tubuh kita (juga terjadi pada hewan) dikonversi menjadi senyawa yang pro-
inflamasi, misalnya
leukotriene (LTB4, LTB5), prostaglandins (PGE2, PGD2).
Penemuan terakhir menunjukkan, AA dalam proses reaksi biokimia di dalam
tubuh, pada tingkat jaringan sel dan sel, pertama melalui senyawa turunannya
seperti yang disebut sebelumnya (
leukotriene, prostaglandins) berfungsi
menimbulkan inflamasi, namun di tengah proses terjadinya inflamasi, AA pun
dikonversi melalui serentetan reaksi biokimia menjadi senyawa lipoxins, yang
berfungsi mencegah terjadinya inflamasi berlarut-larut. Dual fungsi AA kini
dikenal, pro dan juga anti-inflamasi, dengan melalui senyawa turunannya (di
bawah akan banyak digunakan istilah
mediator, atau chemical mediator, atau
juga disebut
lipid mediator (penggunaan kata lipid, dikarenakan turunan dari
asam lemak tidak jenuh), yang dimaksud adalah senyawa-senyawa turunan
berfungsi baik pro maupun anti-inflamasi).

    Inflamasi

Inflamasi, dalam bahasa Indonesia sehari-hari, yaitu radang. Kita sering
mendengar misalnya, radang usus, radang otak, radang paru-paru,
peradangan, bengkak memar dan seterusnya. Kata radang ini kita hubungkan
dengan gejala penyakit yang bersangkutan. Penggunaan istilah ini telah
dikenal secara tradisi sejak jaman Yunani dan Tiongkok kuno, ribuan tahun
yang lalu. Dari penemuan-penemuan terakhir, para pakar berpendapat bahwa,
sebetulnya inflamasi (atau radang) bukanlah berupa penyakit itu sendiri.
Inflamasi diperlukan oleh tubuh kita, karena proses reaksi biokimia inflamasi di
dalam tubuh ditujukan melawan invasi bakteri dari luar, zat-zat yang negatif
bagi sel-sel, jaringan sel, serta organ-organ, ataupun bila terjadi luka. Dalam
hubungan ini, jenis sel seperti
leukocyte, neutrophil, berperan memusnahkan
invasor. Dapat kita gambarkan fungsinya seperti pasukan keamanan dari
sesuatu bahaya yang menyerang keseimbangan tubuh. Terutama
neutrophil,
berperan sebagai patrol keamanan tubuh kita, begitu menemukan sesuatu
yang asing ditubuh, serta merta akan memusnahkannya. Dalam proses
inflamasi,
chemical mediator (juga disebut lipid mediator karena berasal dari asam
lemak AA, DHA dan EPA) berupa
leukotriene dan prostaglandins, turunan dari
AA, memegang peranan penting. Pada waktu yang bersamaan, proses
pemusnahan awal terhadap invasor,
neutrophil mengeluarkan chemical mediator
yang mana memberikan sinyal berikutnya merekrut lebih banyak lagi sel
neutrophil dan leukocyte untuk turut beraksi memusnahkan invasor. Proses
pemusnahan ini disebut
phagocytosis (kemampuan memakan, menelan).
Dalam proses ini
neutrophil mengeluarkan agent, enzyme (reactive oxygen
species
, hydrolytic enzymes, dan lain-lain), yang secara umum juga tidak baik
bagi tubuh dan dapat merusak sel, jaringan sel. Proses pengerahan pertahanan
ini dapat berlangsung beberapa menit hingga beberapa jam lamanya.
Pertahanan tubuh telah menyiapkan mekanisme sedemikian rupa, pada tahap
tertentu, aksi selanjutnya dari
neutrophil harus dicegah. Pencegahan tersebut
terjadi di mana biosintesa
chemical mediator yang pro-inflamasi, leukotrine,
distop, dan beralih ke biosintesa
chemical mediator anti-inflamasi jenis lipoxins.
Semua biosintesa ini terjadi di dalam sel
neutrophil.

Peralihan atau switch biosintesa dari mediator pro-inflamasi ke anti-inflamasi

Pada tingkat cellular biology (biologi sel) mekanisme peralihan ini telah
terprogram dengan sempurna.
Neutrophil setelah keluar dari postcapillary
venule
(penghujung pembulu darah yang halus. Lihat gambar) berinteraksi
dengan jenis sel-sel lain yang berdekatan di sekitarnya (
leukocytes, blood-borne
cell types
, platelets, endothelia, mucosal epithelia dan interstitial cells, fibroblasts).
Jenis sel-sel lain ini berkontribusi memberikan sinyal terjadinya pada tahap
tertentu peralihan ini.

Munculnya
prostaglandins dari sel neutrophil juga mengisyaratkan secara
terprogram, nasib biosintesa mediator ini (semacam
feedback) sendiri akan
berakhir, dengan meregulasi (
down regulation) enzyme 15-LO yang terdapat di
dalam sel
neutrophil, kemudian biosintesa beralih ke mediator yang lain, yang
anti-inflamasi. Namun hal lain yang sangat menentukan peralihan ini adalah
kemampuan
enzyme 5-LO (5-Lipoxigenase. Penemuan enzyme ini dan satu lagi,
COX, Cyclooxygenase, yang membawa Samuelsson B. dan Bergstrom S.
mendapatkan penghargaan Nobel tahun 1982) mengkonversi secara reaksi
enzymatic dari AA menjadi leukotriene (LTB4), lalu beralih pada tahap berikutnya
ke lipoxins. Dalam hubungan ini
exzyme 5-LO juga substrate dependent
(tergantung dari kondisi mikro setempat), di mana
enzyme tersebut, satu dari
sekian step proses biosintesa, dapat menggunakan dan mengkonversi DHA,
EPA menjadi grup senyawa resolvins.

Pada tingkat sel, munculnya neutrophil dan terbentuknya nanah (
pustule. lihat
gambar bawah) mengisyaratkan peralihan dari
mediator pro- ke anti-inflamasi,
dan pembatasan atau pencegahan pengrekrutan
neutrophil berikutnya dari
pembulu darah ke lokasi kejadian. Mediator anti-inflamasi,
lipoxins, resolvins,
dan
protectins memobilisasi sel macrophage (monocyte) yang dapat memakan
sel
neutrophil, serta membersihkan lokasi dari sisa-sisa pertarungan.
















(Reprinted, with permission, from the Annual Review of Immunology, Volume 25
©2007 by Annual Reviews   www.annualreviews.org)


    Biosintesa dan fungsi (dan cara kerja)  lipoxins

Biosintesa lipoxins terbentuk sewaktu terjalin interaksi antara (a) sel mucosal
dan sel
vacular, (b) sel platelet dan sel leukocyte, dan (c) senyawa intermediate
yang berada pada
lipid membrane.

Sel-sel mucosal (airway epithelial cells, basophils, macrophages, bronchial
tissue) yang banyak mengandung
enzyme 15-LO, di mana enzyme ini
mengkonversi secara oxidatif AA menjadi
mediator 15S-H(p)ETE, seterusnya
mediator ini di dalam sel leukocyte dikonversi lagi, sehingga pada akhirnya jalur
biosintesa ini terbuka untuk memproduksi
mediator lipoxins, LXA4 (5S,6R,15S-
trihydroxy- 7,9,13-trans-11-cis-eicosatetraenoic acid
) dan isomernya LXB4 (5S,
14R,15S-trihydroxy-6,10,12-trans- 8-cis-eicosatetraenoic acid
).









               
LXA4                                                                        LXB4

Dalam proses interaksi antara sel platelet dan leukocyte, peneliti menemukan sel
platelet dapat menempel pada sel neutrophil, dan menangkap LTA4 serta
mengkonversi mediator ini menjadi
LXA4 and LXB4.



1.  Charles N. Serhan.
Resolution Phase of Inflammation: Novel Endogenous Anti-
Inflammatory and Proresolving Lipid Mediators and Pathways
, Annu. Rev. Immunol.
2007. 25:101–37
English Summary

The function of omega-3 for our health

This is the last part of article series, "The function of omega-3 for our health".

For almost last 100 years researchers saw something positive to human health in
fatty acids, especially species from poly-unsaturated fatty acids (PUFAs) derived
from marine organism, e.g. fish. Story begins with the knowledge that our
ancestor starting the civilization as hunter and gatherer, but long before that
many evidences tell us, human depends heavily on certain kinds of fatty acid,
namely DHA and EPA of omega-3 family that make-up our today's intelligence. In
clear text, DHA and EPA are part of our body "component" that without them we
will not have a healthy life. At one side they function as structural component
within lipid double layer encapsulate cytoplasm and letting the whole cell with
certain fluidity property. At the other side they actively play a very important role
in body physiology.

Balance in our daily nutrition is very important to health. Many evidences indicate
that omega-3 fatty acids, DHA and EPA are essential to us. Human body is a very
complexed biochemical process, and DHA and EPA play many important roles in
maintaining our good health. Deficiency in these fatty acids seem to cause
malfunction in certain organ. So far scientists could conclude that diseases such as
cardiovascular disorder, psychological diseases, Alzheimer disease, cancer and
also inflammation related to DHA and EPA. The latest in case of long lasting
inflammatory event could lead to those other diseases.  

Dr. Charles N Serhan described elegantly in his recent review article, which is used
as main source for writing this article, how these two PUFAs are indisputably
needed to put the inflammation to end in our body.

Arachidonic acid is not merely responsible for the inflammation reaction, which is
well known in prostaglandins cascade, but also at the same time it has the
property to resolve it, through a series of biochemical and cellular event, in which
AA is converted in interdependent with the inflammation reaction, to an
anti-inflammation mediator,
lipoxins.

The fascinating works from Dr. Serhan's group provide us to understand the
inflammation reaction and also the way to resolve it in our body on cellular and
molecular level. DHA and EPA both play a central role in this event. These two
molecules thoroughly play a positive role in resolving the inflammation, comparing
with arachidonic acid, with dual function as mediator for inflammation and as
anti-inflammation. Aspirin is known with its good anti-inflammation property, and
it is interesting that this small molecule has also similar biochemical mechanism
to stop the inflammation. Aspirin is also used in many of their experiments to
study the action of pro-resolving mediator.

Inflammation itself is not a disease, as Dr. Serhan stated. It is necessary in the
physiology to prevent unexpected foreign agents, chemical radicals,
microorganism from invading our body cells or organs. This is just one part of the
self defence mechanism. Once the inflammation event develop to certain step,
the preprogrammed inflammation resolving mechanism takes place to bring back
the normal physiological condition or homeostasis. It is the function of lipoxins,
and also, as Dr. Serhan discovered, DHA and EPA are undergone biochemical and
enzymatic conversion to act as mediator to stop further inflammation. The timing
of enzymatic and biochemical resolving reaction happens very exact at the point,
when and where it should take action. This new classes of DHA, EPA derived
mediators are
resolvins and protectins. EPA is converted to resolvins E series,
and DHA is conveted to
resolvins D series and protectins. Since it is also found in
nervous system and it has an important role in brain tissue, so protectins is also
named as
neuroprotectins.

The common function lipoxins, resolvins and protectins have is during the
inflammation process, they prevent the further infiltration of neutrophil cells from
releasing capillary blood vessel. Neutrophil cell type can release chemically active
agents to deactivate thing not good for body, but these agents can also be
harmful to body.

All these discoveries will bring benefit to biomedical research progress, in further
understanding the complexed human biochemical reactions in relation to disease
study, and it will also have a positive impact in developing new generation of
therapeutic active substances curing diseases in association with inflammation
event.