Mujizat omega-3 terhadap kesehatan (II)
The function of omega-3 for our health (II


Omega-3 masih butuh pembuktian clinical trial yang menyeluruh untuk
memuaskan semua pihak. Cara demikianlah yang ditempuh oleh industri
pharmasi, bila ingin dipandang sederajat dengan obat-obatan. Yang membuat
rumit bagi omega-3 PUFA, senyawa tersebut berhadapan dengan sekian banyak
penyakit
modern society, dan mencoba meng-claim keampuhannya. Berikut ini
akan ditampilkan beberapa peneliti yang memandang positif omega-3 PUFA
terhadap beberapa penyakit
modern society.

Adrew L. Stoll, MD, peneliti dari Harvard Medical School, The Department of
Psychiatry, McLean Hospital, Boston , Mass, Amerika. Stoll melakukan penelitian
pengobatan dengan omega-3 terhadap patient
psychiatric disorders. Ia
pengarang buku "The Omega-3 Connection" (2002). Buku yang menarik
menceritakan secara
historic mengapa kita membutuhkan omega-3 (Pada lain
kesempatan, bila memungkinkan, akan kami bahas tentang buku tersebut).

Artikel tuilisan Hibbeln R Joseph dapat ditelusuri dari akhir tahun 80an hingga
90an, di mana ia mendalami
epidemiology penyakit-penyakit gangguan
kejiwaan, depresi, kemudian juga penyakit
bipolar disorders, suicide,
aggressiveness, schizophrenia, dan lain-lain yang berhubungan dengan psychiatric.
Tulisannya telah banyak sekali dijadikan
reference. Yang menonjol pada
tulisannya secara
epidemiology yaitu hubungan antara pola makan kandungan
poly-unsaturated fatty acids (PUFA) di ikan, dengan penyakit yang disebut di atas.
Salah satu artikelnya "
Cross-National Comparisons of Seafood Consumption and
Rates of Bipolar Disorders
" (9), di mana dapat ditunjukkan secara kasat mata,
negara di mana penduduknya mengkonsumsi banyak ikan laut, Iceland, Korea,
dan Taiwan, mengendap penyakit jenis
bipolar disorders dan schizophrenia yang
rendah, sedangkan negara seperti Jerman, Spanyol, Hungaria, dan Israel,
tinggi angkanya, dengan konsumsi ikan laut yang rendah.

Selanjutnya, nama seperti Crawford MA (Sebuah presentasi menarik dari
Crawford berupa
Power Point Presentation dapat Anda lihat. 2002), Sinclair AJ,
Simopoulos AP, dan masih banyak lagi nama lainnya, adalah para peneliti yang
telah puluhan tahun merintis penelitian di bidang PUFA dan omega-3. Tulisan
mereka telah memudahkan para peneliti melakukan penelitian selanjutnya.
Hingga akhirnya kita dapat mengenal lebih baik, apa itu sebetulnya fungsi
daripada omega-3 di tubuh kita. Penelitian pada omega-3 dilakukan dari
berbagai disiplin ilmu misalnya, biokimia, biokimia
membrane lipid, brain science,
biologi molekuler, rekayasa genetika, teknologi
scanning, dan lain-lainnya.

Sekarang kembali kepada kita sendiri, menghadapi hal-hal yang praktis di
dalam kehidupan sehari-hari. Apakah kita perlu meragukan kahsiat omega-3
PUFA ? Tulisan di bawah mungkin dapat memberi jawaban yang melegakan
kepada kita semua akan hal ini.

Beberapa penemuan terakhir tentang omega-3

Para pakar di bidang tersebut dikonfrontasi dan sadar akan penemuan dari
fungsi omega-3, EPA, DHA, di dalam tubuh kita, dan ini dilihat dari fungsinya di
dalam sel, terutama di dalam sel otak. Penemuan-penemuan tersebut
menunjukkan bahwa, terutama DHA, adalah bagian yang tidak terpisahkan dari
fungsi normal bekerjanya otak kita.
DHA adalah bagian dari cell membrane yang
sangat vital
.

Review article yang ditulis oleh Parris M Kidd, PhD (10, 2007) berjudulkan
"
Omega-3 DHA and EPA for Cognition, Behavior, and Mood: Clinical Findings and
Structural-Functional Synergies with Cell Membrane Phospholipids
" dapat
memberikan gambaran secara umum pengetahuan tentang omega-3 hingga
saat ini.

Seperti telah kita ketahui dari bagian
(I) tulisan ini, EPA, DHA adalah senyawa
omega-3 (Bila Anda ingin mengenal lebih dekat kedua senyawa tersebut dari
struktur kimianya, silakan menuju ke
links). EPA dan DHA memiliki fungsi
masing-masing di dalam tubuh kita, dan secara tepatnya kedua senyawa
tersebut memiliki
path (jalur) yang menentukan proses biokimia selanjutnya
(11). EPA dan DHA adalah bagian yang sangat penting dari
cell membrane.
Secara keseluruhan EPA, DHA menunjang kesehatan mental, dan tanpa
supply
yang mencukupi, tubuh akan terganggu stabilitas mentalnya.

Cell membrane terdiri dari double lipid layer sebagai dasarnya (links). Lipid pada
cell membrane berupa phospholipid, yaitu kecuali lipid (glycerol dan fatty acids) ada
phosphate group lagi, menjadi kesatuan molekul yang besar. Salah satu fatty
acids
dari phospholipid itu yang terdapat di sel otak adalah poly-unsaturated fatty
acid
atau PUFA (asam lemak tidak jenuh). Sedangkan kebanyakan PUFA di otak
adalah DHA dan AA (arachidonic acid. AA penting bagi tubuh, akan tetapi lebih
mudah diperoleh dari pada DHA, dari makanan berupa daging, telur, dan susu.).

Harris WS (12) dalam artikelnya menjelaskan
omega-3 mechanism di dalam
tubuh dan sel. DHA, EPA bergabung di
cell membrane dalam bentuk phospholipid
(
links), dan kemudian bila dibutuhkan sel, akan dipecah dengan bantuan
enzyme phopspholipase A2 dari phospholipid dan masuk ke dalam sel
(
intracellular). Proses pemecahan enzyme ini disebabkan signal dari dalam sel
membutuhkan DHA/EPA untuk mengatasi terjadinya gejala inflamasi. Telah
diketahui dengan baik, bahwa DHA, EPA berperan meredahkan terjadinya
inflamasi, yang disebabkan dan dikenal dengan nama
infalmmatory cascades
(Bagian yang tidak akan dibahas terlalu jauh di sini, cukup kalau kita mengenal
istilah seperti prostaglandins, arachidonic acid AA, eicosanoids (yang buruk),
semuanya dikenal  sebagai pemacu terjadinya inflamasi.).

Apa peranan DHA, EPA di
cell membrane? Dengan adanya DHA, EPA, karakter
fluidity dari cell membrane lebih tinggi. Ini disebabkan oleh kedua senyawa ini
yang memiliki titik cair yang rendah. DHA, EPA adalah
poly-unsaturated, dengan
kata lain ikatan antara
corbon atom terdapat lebih dari 2 double bounding. Fluidity
dari pada
cell membrane (10, 12) mempermudah sistem transport dari dan ke
sel, dan sebaliknya. Sistem transport selalu membutuhkan protein (
carrier
protein, receptor protein
) tertentu yang berada di cell membrane. Fluidity menjamin
protein bekerja lebih optimal. Penelitian membuktikan, DHA, EPA terdapat
dengan jumlah yang tinggi di
cell membrane pada sistem synapse (Lihat artikel
di situs ini  
The Brain tentang synapse). Hal yang serupa juga pada sel
spermatozoa, retina di mata, dan yang jelas pada sel otak (
neuron) kita. sel
dan sel organ tersebut membutuhkan
fluidity yang tinggi untuk bekerja secara
sempurna. Synapse memegang peranan kunci dalam proses transfer informasi
antar sel otak (
neuron), dan antar sel neuron dan organ lainnya di dalam tubuh
kita. Kadar DHA, EPA yang rendah akan mengganggu proses tersebut, dan
melumpuhkan sistem kerja otak.

Sejauh ini Harris dan grup peneliti lainnya dapat membuktikan, untuk berfungsi
secara normal,
cell membrane seharusnya memiliki kurang lebih 8% DHA, EPA dari
total
fatty acid yang ada di sana. Penelitian ini dilakukan dengan sel darah
merah. Pembuktian tersebut berhubungan dengan
coronary heart diseases
(CHD). Secara
epidemiology,  bila total DHA dan EPA di cell membrane pada sel
darah merah jauh di bawah angka itu, atau sekitar 4% dari total
fatty acid, risiko
CHD sangat besar. Ia menyarankan DHA/EPA di
cell membrane pada sel darah
merah (
red blood cell) dapat dijadikan bio-marker, atau omega-3-index. Suatu
waktu di kemudian hari, bila metoda tersebut diterima, pendeteksian dan
prediksi penyakit
modern society lebih mudah ditangani, serta akan berbiaya
lebih rendah.

DHA, EPA menjaga keseimbangan di dalam sel bila terjadi inflamasi yang
berlebihan. Bagaimana terjadinya proses mereda inflamasi? Penemuan
beberapa tahun terakhir tentang ini membuka peta baru peranan DHA, EPA di
dalam sel.

Peranan berikutnya dari DHA dan EPA di
cell membrane, kecuali menjaga fludity
yang dibicarakan di atas, yaitu sebagai
anti-oxidant, menangkal serangan
senyawa bersifat
oxidative dari luar. Struktur senyawa omega-3 yang terdapat
banyak
double bounding antara carbon atomnya, ini menyebabkan senyawa
tersebut mudah teroksidasi. Produk teroksidasi dari DHA, EPA itu, bila dipecah
dan kemudian masuk ke dalam sel, akan diproses secara
enzymatic dan diubah
menjadi senyawa yang mempengaruhi kesehatan kita, yaitu berperan aktif
mereda inflamasi. Mengenai ini akan kami lanjutkan pada tulisan berikutnya
dalam waktu dekat.



References:

(Beberapa artikel ini dapat Anda peroleh di situs masing-masing ditandai
dengan
Free Access.)

9.  Simona Noaghiul, M.D., M.P.H. Joseph R. Hibbeln, M.D..
Cross-National
Comparisons of Seafood Consumption and Rates of Bipolar Disorders
. Am J
Psychiatry 2003; 160:2222–2227.
10.  Parris M Kidd. Health educator; biomedical consultant to
the dietary supplement industry (formerly Cell biology, University of California,
Berkeley).
Omega-3 DHA and EPA for Cognition, Behavior, and Mood: Clinical
Findings and Structural-Functional Synergies with Cell Membrane
Phospholipids
. Alternative Medicine Review, Volume 12, Number 3, 2007.
11.  Serhan CN.
Novel eicosanoid and docosanoid mediators: resolvins,
docosatrienes, and neuroprotrectins
. Curr Opin Clin Nutr Metab Care 2005;8:
115–21.  
12.  William S. Harris, PhD.
Omega-3 Fatty Acids and Cardiovascular Disease: A
Case for Omega-3 Index as a New Risk Factor
. Pharmacol Res. 2007 March ; 55
(3): 217–223.
English Summary
    The function of omega-3 for our health

    This is the second part of article about omega-3. It is an amazing group of
    molecules, and in this article we introduce some researchers who are doing
    research works, which are based on epidemiology, literature studies as meta-
    analysis, clinical trials, cohort-studies, reviews, experimental in biochemistry or
    intervention studies, and so on.

    As we know, there are so many publications in this area, we try to understand who
    is doing what, and which research group has brought more valuable and
    breakthrough results.

    The majority of published papers in omega-3 mostly are not experimental but
    more in small scale clinical trial, with or without intervention. As Stahl et al in their
    recently published article (The role of omega-3 fatty acids in mood disorders. Curr
    Opin Investig Drugs. 2008) stated, that many current studies on omega-3 are
    overall not so conclusive, as we can read some passages from his Conclusion and
    Future Perspective,

    ... epidemiological studies generally, but not in all instances, supported a benefit of
    consumption of long chain omega-3 PUFA in mood disorders. Some might ... intervention
    studies have been extremely heterogeneous often with small sample sizes. ... subjects
    have varied in the severity of depression, the use of omega-3 PUFA as monotherapy or
    adjunct therapy, the type of long chain omega-3 PUFA (fish oil containing EPA+DHA,
    DHA from algal oil or purified ethyl EPA), the dose of long chain omega-3 PUFA and the
    duration of the intervention. ... there has not been an adequate dose response study.  

    However from the whole context, they do not negate the important role of omega-
    3 PUFA. We still need some more time to get better research proving with fully
    acceptable data, which could satisfy all of us, especially for people who consume
    it every day as supplement.

    Clinical research is very time intensive and time consuming, which involving large
    group of people in the trial. However that kind of detailed data, which is tractable,
    reliable, would be used as indispensable and valuable reference for forever.

    More interesting thing is the recent finding of novel omega-3 pathways after
    undergoing oxidation reaction within the cell. The end products of these
    pathways, which we will discuss next time, and also the last part of this writing,
    are a series of biological active novel compounds.