| Mujizat omega-3 terhadap kesehatan (II) The function of omega-3 for our health (II) posted Feb 22 08 Perkembangan, penelitian, dan pandangan terhadap omega-3 Seperti yang telah disampaikan di bagian pertama sebelumnya, karena senyawa tersebut memiliki demikian banyak effek positif terhadap kesehatan, banyak peneliti dari berbagai Institusi penelitian di seluruh dunia turut terjun melakukan study. Tema penelitian pun beragam. Yang telah kita ketahui bahwa asal mulanya penemuan tersebut dari studi banding kasus penyakit jantung (coronary heart disease)antara orang Eskimo dan orang Amerika, yang kemudian merambah ke segala penyakit di modern society. Tulisan bagian kedua ini berdasarkan dari beberapa reference literature, yang cukup memberikan gambaran sementara tentang perkembangan omega-3 di dunia penelitian. Dengan tulisan ini diharapkan bagi pembaca yang masih ingin menggali lebih dalam, baik informasi maupun pengetahuan tentang omega-3, mendapatkan gambaran "how competitive is this molecule", sehingga menyebabkan sekian banyak peneliti menekuninya. Omega-3 tidak dipandang sebagai vitamin sebagaimana yang kita ketahui, seperti vitamin C, atau B, dan lain-lain, Omega-3 masih dalam perjalanan pembuktian yang lebih memuaskan lagi bagi semua pihak. Saya akan mulai dari tulisan grup peneliti Appleton KM, The University of Bristol, (Dari article terakhirnya dapat dilihat, ia kemudian pindah ke Quenn's University Belfast) Inggris. Appleton KM et al tidaklah menonjol di dunia omega-3, dan ia pun rupanya tidak begitu mudah mengikuti arus yang memuji khasiat omega-3. Pada salah satu artikelnya (1, 2006) ia menyimpulkan sebagai berikut:
mood is limited and is difficult to summarize and evaluate because of considerable heterogeneity. The evidence available provides little support for the use of n–3 PUFAs to improve depressed mood. Larger trials with adequate power to detect clinically important benefits are required. Appleton et al tidak melakukan percobaan, melainkan mengevaluasi artikel yang dipublikasi jurnal-jurnal di seluruh dunia mengenai omega-3. Lumayan keras kerjanya menelusuri artikel sebanyak 13 ribuan judul yang berkaitan dengan omega-3 (meta analysis). Dari jumlah itu diperas hingga akhirnya tinggal 12 artikel saja yang masuk kategori dapat diterima sesuai kriteria standard penelitian. Dapat dibayangkan, siapa yang dapat mambuat terobosan dalam penelitian, ia akan mendapatkan penghargaan, serta perhatian, dan kemudian tulisannya pun akan diterima dengan peringkat peer article. Perlu kita sadari, tidak semua tulisan ilmiah itu berkwalitas. Yang menarik di dalam daftar Appleton et al, yang tinggal 12 nama termasuk juga Stoll et al, dan Peet, keduanya dikenal baik di dunia omega-3. Tulisan Appleton et al berikutnya (2) juga berdasarkan data questionnaire dari 2 ribuan peserta di Inggris. Hasil evaluasinya tetap menyatakan tidak menunjang effect omega-3 terhadap depressive. Pada tulisan berikutnya (3), juga evaluasi questionnaire dari 10 ribuan peserta dari Irlandia Utara dan Prancis. Kesimpulannyanya tidak jauh berbeda dari sebelumnya, tetapi sudah agak melemah,seperti yang ditulisnya di bawah ini:
directly and indirectly are yet to be determined. However, while diet is not measured and until lifestyle can be adequately measured, the potential roles of diet and lifestyle in the association between depressed mood and dietary fish intake should not be ignored. Hal yang serupa mempertanyakan keampuhan omega-3. datang dari Lee Hooper et al (4), School of Medicine, University of East Anglia, Norwich, Inggris. Hooper juga melakukan pencarian dari beribu-ribu literatur yang berhubungan dengan omega-3 terhadap penyakit cardiovascular disoders dan cancer (meta analysis). Tetapi tulisan Hooper mengundang banyak perhatian dan kritikan dari para pakar (5). Awal dari perdebatan yalah salah satu hasil penelitian yang dimuat dalam artikel Hooper. Nama penelitinya Burr ML (6) yang melakukan penelitian dengan hasil kwalitas rendah, tetapi dikutip oleh Hooper dan dijadikan sebagai pegangan. Sehingga membuat kesimpulan yang memberatkan khasiat omega-3. Salah satu kritikan datang dari Dr. Dyerberg. Kritikan yang sangat mengena datang dari Crawford MA (Institute of Brain Chemistry and Human Nutrition, University of North London, London, UK),
based on relative risk - favours high or favours low omega 3 - which like a drug trial assumes the variable is only the omega 3 dose. This falsifies the review. Begitulah, jalan pikiran sebagian peneliti sudah biasa dengan skema percobaan dengan hanya satu variable. Padahal dalam hubungan ini omega-3 jelas dipengaruhi oleh banyak faktor lainnya. Selanjutnya Crawford mengomentari,
and used MAXEPA capsules. MAXEPA is an EPA rich oil derived from but not a fish oil! .... they do not report docosahexaenoic acid (DHA). ... DHA is the principle cell membrane omega 3 fatty acid of the endothelium, smooth muscle cells, heart, immune, neural and other cells. The receptors are in the membrane and that is where you would want to see a difference if your measure was effective. There is relatively little EPA in the receptor sites. (Catatan penulis: DART adalah sejenis software untuk analisa data.) William S Harris (Nutrition and Metabolic Disease Research Institute, Sanford Research/USD Sanford School of Medicine of the University of South Dakota and Sioux Valley Hospitals and Health System) mengkritik dari substansi percobaannya,
this area is problematic owing to the lack of high quality, randomized controlled trials (RCTs). Absent these, meta-analyses can be more harmful than helpful. ... One troubling aspect of the Hooper meta- analysis was the pooling of diet studies (i.e. fish intake advice) with supplementation trials (using either generic fish oil capsules or highly concentrated prescription omega -3 preparations). The former required replacement of some foods with others (leaving open the possibility that the omitted items contributed to the observed outcomes), whereas the latter did not. In addition, commingling studies with differing doses, background diets, patient populations, and follow-up periods adds markedly to sample heterogeneity. Kritikan selanjutnya terhadap Hooper et al dapat Anda baca di referensi (5). kurang lebih ada puluhan tulisan yang meragukan khasiat omega-3, sesuatu hal yang akan terjadi, mengingat belasan ribu artikel yang telah dipublikasi tentang omega-3. Ini berarti, suara yang kontra masih di bawah 1%! Bagi saya, terus terang, walaupun tidak membaca artikel yang kontra, sekian banyak tulisan betul-betul sulit mengenal ujung-pangkalnya. Hanya dengan cara pelan- pelan dan sistimatis mencari beberapa artikel pegangan, dan bolak balik dibaca, dihubungi satu dengan yang lain, barulah akhirnya dapat mengambil kesimpulan-kesimpulan awal. Tulisan di atas sekedar memberikan gambaran betapa tajamnya pandangan para peneliti bila sesuatu yang tidak beres muncul berupa tulisan. Hal demikian biasa terjadi di dunia ilmiah dan di antara para pakar, yang akhirnya memicu kwalitas penelitian yang lebih sempurna. Para peneliti terkenal di bidang tersebut bukan tidak melihat kekurangan di sana sini dari hasil penelitiannya, dan mereka menyadari harus ada koordinasi dan kerja sama yang berkelanjutan, hal tersebut dapat dilihat dari article (7) yang dibuat bersama oleh beberapa pemuka omega-3 dari Amerika, Marlene P. Freeman, MD dari University of Arizona College of Medicine, Tucson, Joseph R. Hebbiln, MD, The National Insitute on Alcohol Abuse and Alcoholism, Bethesda, Md, Malcom Peet, MB, School of Health and Related Research, University of Sheffield, Sheffield, England, Andrew L. Stoll, MD, The Department of Psychiatry, McLean Hospital, Harvard Medical School, Boston , Mass, dan masih banyak lagi lainnya. Tujuannya mereka menyatakan akan meninjau hasil penelitian selama ini, apakah dapat menunjang penggunaan omega-3, essential fatty acids (EFA) untuk penanganan preventif serta pengobatan pada penyakit mental (psychiatric disorders). Stahl LA dan rekan-rekannya (School of Psychological Science, La Trobe University, Bundoora, Victoria, Australia), termasuk juga Sinclair AJ (School of Exercise and Nutrition Sciences, Deakin University, Victoria, Australia) (8. 2008) me-review hasil penelitian studi epidemiology hubungan antara omega-3 PUFA dengan depresi, serta hasil penelitian percobaan penyembuhan depresi, bipolar disorders menggunakan omega-3 PUFA. Dari pengamatan mereka terhadap hasil penelelitian itu, ternyata tidak sedikit yang menunjukkan tidak memuaskan atau tidak conclusive dengan omega-3 PUFA. Stahl et al melihat penyembuhan dengan EPA, ethyl-EPA. EPA menunjukkan effek terhadap fungsi sel endothelial pada pembuluh darah, yang mana memperlancar peredaran darah pada bagian cerebral. Di lain pihak terlihat, bahwa terdapat korelasi antara DHA dengan gejala depression, post partum depression, bipolar disorders, namun ini pun bukan tanpa kekurangan. Yang ditekankan oleh Stahl et al sebetulnya kwalitas percobaan hingga kini, masih beragam, dan belum terdapat pembuktian dose respond dari omega-3 PUFA. References: (Beberapa artikel ini dapat Anda peroleh di situs masing-masing ditandai dengan Free Access.) 1. Katherine M Appleton, Robert C Hayward, David Gunnell, Tim J Peters, Peter J Rogers, David Kessler and Andrew R Ness. Effects of n–3 long-chain polyunsaturated fatty acids on depressed mood: systematic review of published trials1. American Journal of Clinical Nutrition, Vol. 84, No. 6, 1308-1316, December 2006 2. Appleton KM, Peters TJ, Hayward RC, Heatherley SV, McNaughton SA, Rogers PJ, Gunnell D, Ness AR, Kessler D. Depressed mood and n-3 polyunsaturated fatty acid intake from fish: non-linear or confounded association? Soc Psychiatry Psychiatr Epidemiol. 2007 Feb;42(2):100-4. Epub 2006 Dec 11 3. Appleton KM, Woodside JV, Yarnell JW, Arveiler D, Haas B, Amouyel P, Montaye M, Ferrières J, Ruidavets JB, Ducimetiere P, Bingham A, Evans A; for the PRIME Study Group. Depressed mood and dietary fish intake: direct relationship or indirect relationship as a result of diet and lifestyle? J Affect Disord. 2007 Dec;104(1-3):217-23. Epub 2007 May 1 4. Lee Hooper, Rachel L Thompson, Roger A Harrison, Carolyn D Summerbell, Andy R Ness, Helen J Moore, Helen V Worthington, Paul N Durrington, Julian P T Higgins,Nigel E Capps,Rudolph A Riemersma, Shah B J Ebrahim, George Davey Smith. Risks and benefits of omega 3 fats for mortality, cardiovascular disease, and cancer: systematic review. BMJ, doi:10.1136/bmj.38755.366331.2 F (published 24 March 2006) 5. http://www.bmj.com/cgi/eletters/332/7544/752 dan http://www.bmj. com/cgi/content/full/332/7544/752?grp=1 6. Burr ML, Ashfield-Watt PA, Dunstan FD, Fehily AM, Breay P, Ashton T, Zotos PC, Haboubi NA, Elwood PC. Lack of benefit of dietary advice to men with angina: results of a controlled trial. Eur J Clin Nutr 2003;57:193-200. 7. Freeman MP, Hibbeln JR, Wisner KL, Peet M, Keck PE, Marangell LB, Richardson AJ, Kake J, Stoll AL. Omega-3 Fatty Acids: Evidence Basis for Treatment and Future Research in Psychiatry. J Clin Psychiatry, 2006, 67: 1954- 1967. 8. Stahl LA, Begg DP, Weisinger RS, Sinclair AJ. The role of omega-3 fatty acids in mood disorders. Curr Opin Investig Drugs. 2008 Jan;9(1):57-64. |
| English Summary |
This is the second part of article about omega-3. It is an amazing group of molecules, and in this article we introduce some researchers who are doing research works, which are based on epidemiology, literature studies as meta- analysis, clinical trials, cohort-studies, reviews, experimental in biochemistry or intervention studies, and so on. As we know, there are so many publications in this area, we try to understand who is doing what, and which research group has brought more valuable and breakthrough results. The majority of published papers in omega-3 mostly are not experimental but more in small scale clinical trial, with or without intervention. As Stahl et al in their recently published article (The role of omega-3 fatty acids in mood disorders. Curr Opin Investig Drugs. 2008) stated, that many current studies on omega-3 are overall not so conclusive, as we can read some passages from his Conclusion and Future Perspective, ... epidemiological studies generally, but not in all instances, supported a benefit of consumption of long chain omega-3 PUFA in mood disorders. Some might ... intervention studies have been extremely heterogeneous often with small sample sizes. ... subjects have varied in the severity of depression, the use of omega-3 PUFA as monotherapy or adjunct therapy, the type of long chain omega-3 PUFA (fish oil containing EPA+DHA, DHA from algal oil or purified ethyl EPA), the dose of long chain omega-3 PUFA and the duration of the intervention. ... there has not been an adequate dose response study. However from the whole context, they do not negate the important role of omega- 3 PUFA. We still need some more time to get better research proving with fully acceptable data, which could satisfy all of us, especially for people who consume it every day as supplement. Clinical research is very time intensive and time consuming, which involving large group of people in the trial. However that kind of detailed data, which is tractable, reliable, would be used as indispensable and valuable reference for forever. More interesting thing is the recent finding of novel omega-3 pathways after undergoing oxidation reaction within the cell. The end products of these pathways, which we will discuss next time, and also the last part of this writing, are a series of biological active novel compounds. |
|
|