| Mari membahas kembali tentang stress Let's talk about stress again posted Dec 29 07 Buku karangan Stephen Covey, berjudulkan "The 7 Habits of Highly Effective People" (Penulis: selanjutnya akan disingkat dgn The 7 Habits saja) telah saya baca beberapa tahun yang lalu, mungkin kira-kira 8 atau 10 tahun yang lalu. Buku tersebut yang telah pula membawanya kesuksesan, dan seterusnya berbagai judul buku diterbitkannya. Saya masih mencari-cari buku The 7 Habits itu, entah tersimpan di mana, dan mungkin telah diambil anak saya dan diselipkan di mana pula olehnya. Don't worry, bukan isi seluruh buku yg ingin saya bahas di sini. Karena saya hanya tertarik pada satu cerita dari dalam buku itu, dan cerita itu merupakan salah satu bagian yang masih tersimpan di memory saya. Tetapi jangan salah mengerti, buku The 7 Habits masih menjadi pedoman hidup saya, terutama sewaktu menghadapi segala macam kendala dan kesulitan hidup. Bicara demikian, rasanya Anda pun akan setuju, bukan? bahwa buku tsb memang dahsyat (!) pengaruhnya terhadap pandangan mereka yang telah membacanya. Jelas, judul-judul buku yang lain dari Stephen Covey, "Principle Centered Leadership", "First Thing First", menjadi santapan saya selanjutnya, karena keinginan tahu lebih banyak lagi, apa sih sebetulnya yang terdapat pada inti buku-bukunya dan pemikiran pengarang yang ingin disampaikan kepada pembacanya. Saya malahan pada waktu-waktu itu pernah mendengar bahwa beliau sempat memberikan semacam seminar atau training di Jakarta. Biasanya karena fee-nya tidak murah, maka saya pun tidak mencari tahu selanjutnya keberadaan seminar itu. Rasanya setelah membaca buku-bukunya, "I'm getting wiser!" Apakah benar demikian. Inilah kelemahan manusia, saya berkata demikian, karena manusia itu cepat sekali lupa akan hal yang telah dibacanya. Ada pepatah mengatakan, bukan menyantap makanan tetapi menelan makanan! Hanyalah bila kita berulang kali membaca buku-bukunya, lalu mempraktikkannya berulang-ulang kali pula, baru dapat dirasakan manfaat buku-buku itu. "I'm getting a little bit wiser", nah saya pikir ini baru benar. Sulit sekali utk merubah sifat pembawaan sejak lahir, ya itu mudah stress, ya itu suka marah-marah, ya itu nggak rajin. Semua ini harus dipadukan dengan knowledge intensive and technique yg dipaparkan oleh pengarang, toch tidak mudah diserap begitu saja, tanpa kondisi-kondisi tertentu yg mendukung dari dalam diri kita. Baiklah ini sedikit gambaran tentang pengalaman saya dgn buku-buku karangan Spethen Covey. Kembali ke cerita yang terdapat di dalam buku The 7 Habits tersebut (Betul-betul sayang, saya sudah lupa sama sekali, dan pula tidak ada catatan, di bagian mana pengarang menulis cerita itu). Bahwa suatu waktu pengarang berada di sebuah kereta penumpang Subway (mungkin di kota New York). Rupanya waktu itu kereta tidak banyak penumpangnya dan kemungkinan juga karena di akhir pekan sehingga cukup lenggang. Dan pada gerbong kereta yang sama di mana pengarang berada, masuklah seorang tua dan seorang anak laki-laki kecil ketika kereta berhenti pada salah satu stasiun Subway. (Nah, bagaimana sekarang? Apakah saya berhasil mengembalikan memory Anda juga yang pernah membaca buku tersebut?) Ternyata kebaradaan si orang tua dan si anak itu merubah suasana di dalam gerbong kereta di mana pengarang duduk. Si anak mulai tidak bisa duduk diam, dari mula-mula berdiri di dalam gerbong, lalu berjalan-jalan, dan kemudian berlarian dari satu ujung gerbong ke ujung lain. Yang membuat sang pengarang merasa terganggu adalah setelah si anak itu mulai berteriak-teriak. Yang terakhir dan membuat si pengarang menjadi penasaran dan merasa kesal sekali (Di dalam hati tentunya. Lihat saja profile si pengarang, nggak bakalan ia menunjukkan emosi yang berkelebihan.) bahwa si orang tua sama sekali tidak melarang tingkah laku anak itu. Mengapa? Saya juga sudah lupa, bagaimana sang pengarang waktu itu meng-approach si orang tua, sehingga mengetahui mengapa ia membiarkan anak itu terus berlagak tanpa dilarang olehnya? (Hal ini menarik bagi mereka yang belum pernah membaca buku The 7 Habits. Kalau saya tidak keliru, pada bagian itu pengarang ingin membahas hal paradigm shift atau perubahan paradigma.) Setelah pengarang dapat kesempatan berbincang dengan si orang tua, barulah ia sadar bahwa si orang tua adalah kakek anak itu, dan pada waktu itu mereka baru kembali dari pemakaman kedua orang tua sang cucu yang mengalami kecelakaan! (Saya pun tidak yakin apakah benar yang ditutur dalam buku karena kecelakaan.) Demikianlah si pengarang pun akhirnya turut berduka untuk sang anak, dan mengerti pula mengapa sang kakek membiarkan si cucunya berlagak sesuka hati. Silakan selanjutnya Anda menilai sendiri inti dari cerita tersebut dalam konteks yang tertulis di dalam buku. Bagi saya, hingga hari ini, satu segi bernilai dan selalu timbul di kepala saya, yaitu hal yang berhubungan dengan "stress". Penuturan Stephen Covey menyelipkan cerita itu, secara tidak langsung memberitahu kepada kita, bahwa semua aktor di dalam cerita itu dalam keadaan stress, dengan tingkatan stress yang berbeda. Stress menjadi bagian kehidupan sehari-hari, ini dapat terjadi dengan mudah, misalnya bila didepan mata (ataupun telinga mendengar sesuatu.) terdapat sesuatu hal yang tidak sesuai dengna keinginan kita. What the heck with the kid and the elderly, mungkin kira-kira begitu di benak orang biasa, apa yang menimpa nasib mereka. Bagaimana dengan Stephen Covey sendiri, beliau pun tidak akan menyadari akan stress yang melanda sang kakek dan cucu, bila yang terakhir duduk diam saja tanpa ada action sama sekali. Stephen Covey memiliki emphaty setelah mendengar kisah duka itu, sehingga stressnya pun berubah, dari disebabkan onarnya si anak tadi, kini menjadi karena mendapat cerita sedih. Selama kita adalah orang yang biasa sehat-sehat saja, mendengarkan cerita yang demikian, ya, hidup akan berlalu, dan cerita itu pun cepat atau lambat akan terlupakan. Apalagi kita sama sekali tidak ada hubungannya dengan sang kakek dan cucunya. Rasanya begitu juga bagi si pengarang. Akhir beberapa kalimat sebagai penutup, tiada lain tulisan ini ingin mengetengahkan bahwa "stress" itu di mana-mana di dalam kehidupan kita ini. Sekalipun seorang Stephen Covey tidak akan mengenali siapa-siapa saja di sekelilingnya yang sedang mengalami stress berat, bila seseorang itu tidak menunjukkan ciri-ciri yg sangat menyolok, yang mengindentifikasikan adanya sesuatu yang tidak normal dan kesat mata pada diri orang itu. Siapa pula yang dapat mengetahui kepiluan hati sang kakek yang kehilangan anaknya sendiri! Dan apa rupanya stress yg dialami sang kakek, we don't know. Memang Stephen Covey merupakan orang (satu dari tiga aktor.) yang paling ringan terserang stress, karena hanya terganggu sementara kenyamanannya berkereta Subway. Mungkin cara Stephen Covey yang paling patut dijadikan teladan, adalah beliau yang secara assertive dapat mengetahui sebab musabab onar sang cucu. I think it's the good way to release some body else from getting stress, even it is a minor one! Terserah Anda menilainya. Akhir kata, terima kasih telah berpatisipasi membaca tulisan ini. |

| English Summary |
| English Summary |
Stephen R. Covey's book, "The 7 Habits of Highly Effective People" had brought change in many people life. It is an inspiring book, how we should tackle our daily life. I personally had bought some of book written by him, including "Principle Leadership", "First Thing First", and so on. It is my way in dealing with good books. After knowing that these are good books, I then will recommend to other people, from the closest my family members, and then whoever I met and talk I always recommend them to read books from him. I love his book because they have change my view about life, about relation with other people, and more importantly how to deal with many things in life. There is a good philosophy in his book, and I would say he could be a "Saint" for modern world and modern lifestyle. Because the life today is much more complicated than say 50 or 100 years ago. It is due to the industrializing of our world, and even harder for many people are the commercializing of many aspects of life. Well, in this Indonesian language article, I prefer to talk about thing which is not the important part in the book of "The 7 Habits of Highly Effective People". It is about the experience of Stephen Covey that he wrote in his book. From this experience I highlight the subject and talk about stress. Because stress is every where, whether you are aware or not. This is about the scene, when Stephen Covey (SC) tells the story (I can not remember in which page and in which book from SC is the story. If you are interested in the story you could try to search in one of his book.), that he met an old man and kid accompanied him. They were in a subway train, maybe somewhere in New York. SC wouldn't take any notice to them if the kid didn't let him capture more attention. Some how, after a while inside the subway train, the kid couldn't just sit there. He started to talk loudly, and then beginning to walk from one end to the other end inside the compartment. So it began for SC, that the kid has started to disturb him a lot. After a while, SC was wandering why the old man didn't try to control the kid's misbehavior. The old man just sitting there and looked at kid, but did nothing. This is the thing we have to learn from SC. He knew he was being bothered by kid's action. Instead of protesting about it (Of course it is stressful, isn't.), SC got approached the old man, and finally got the truth about what had happened with the kid. Days before, both of the parents from kid were killed in (maybe car) accident. That day they were just on the way back home from the funeral of kid's dead parents. So imaging in what kind of stress situation for the kid, and also for the old man. From the story we know that the old man is the grandfather from kid. Back to my highlight on this story before. All the three actors in the story (SC, old man, and the grandson), have got stress at different degree. SC had just got light stress. It is just because the kid has annoyed his comfort zone. The old man and the grandson both have, if not very severe, it certainly is a very stressful and depressive experience - to loss love one in family. SC himself can easily be freed from stress by assertively asking question about what is really happened to the kid. But how about the old man and grandson. They will bear by themselves this painful memory even long after the death of the family member. Stress is every where. My message is, please face the fact and try to search the best solution to get around with it, before it eats you. I mean it effects badly your health, it will make you a victim. |

|
|